Sarasehan Dagelan Putri Tiga Generasi di TBY: Antara Pembuktian Kapasitas dan Wacana Emansipasi

banner 120x600
banner 468x60

LokalJawa – Yogyakarta 15 April 2026

Taman Budaya Yogyakarta menjadi ruang perjumpaan lintas generasi dalam sarasehan bertajuk “Seni Budaya Dagelan Putri Tiga Generasi: Bukti Kemampuan Diri atau Sekadar Emansipasi?”. Diskusi yang digelar di ruang seminar ini menghadirkan moderator Yanti Lemoe dan dipandu oleh Rika Anggita, dengan suasana dialog yang hidup dan reflektif.

banner 325x300

Kepala TBY, Dra. Purwiati, dalam sambutannya menegaskan bahwa forum ini menjadi momentum penting untuk menelisik perjalanan dan posisi perempuan dalam dunia dagelan dari masa ke masa. Ia berharap sarasehan ini melahirkan diskusi yang berkelanjutan, inovatif, sekaligus memperkuat jejaring antar pelaku seni.

Praktisi dagelan Tulis Priyantono ( Toelis Semero ) menyoroti kondisi dagelan Mataram sebagai warisan budaya tak benda khas DIY yang mulai terpinggirkan. Ia mengingatkan bahwa tanpa perhatian serius, kesenian ini berpotensi meredup. Menurutnya, inisiatif TBY melalui pelatihan lawak bagi anak-anak menjadi langkah strategis dalam menjaga regenerasi. Ia juga menekankan bahwa kemampuan melawak kini tidak semata bakat, tetapi dapat dipelajari, dengan kecerdasan sebagai kunci untuk membaca situasi secara cepat. Dalam konteks dagelan putri, keikhlasan disebutnya sebagai fondasi untuk bertahan dan berkembang.

Dari generasi ketiga, Herdina Anna Lutfiani ( Dina Trinil ) memandang isu ini dari perspektif kemampuan dan emansipasi. Ia menjelaskan bahwa kemampuan mencakup kecakapan intelektual dan keterampilan dalam menyelesaikan persoalan, sementara emansipasi berkaitan dengan perjuangan kesetaraan hak dengan laki-laki.
Menurutnya, dinamika persaingan dagelan perempuan kini jauh lebih kompleks. Ia menegaskan bahwa daya tarik visual bersifat sementara, sedangkan keterampilan adalah investasi jangka panjang yang menentukan keberlangsungan karier.

Pandangan dari generasi kedua disampaikan Rini Widyastuti yang menekankan pentingnya proses belajar berkelanjutan. Ia menggarisbawahi bahwa dagelan harus mampu beradaptasi dengan kebutuhan audiens masa kini tanpa meninggalkan nilai-nilai lama, seperti sikap santun dan unggah-ungguh yang menjadi ciri khas dagelan Mataram.

Sementara itu, pelawak senior Suyati sebagai representasi generasi pertama justru melihat perubahan zaman sebagai ruang belajar baru. Ia mengakui bahwa era lawak telah berubah, namun keterbukaan untuk terus belajar dan beradaptasi membuatnya tetap relevan dan dikenal hingga kini.

Sarasehan ini menegaskan bahwa eksistensi dagelan putri tidak semata soal emansipasi, melainkan juga tentang pembuktian kapasitas, konsistensi berkarya, serta kemampuan beradaptasi lintas zaman.

banner 325x300