https://www.profitablecpmratenetwork.com/eujr14h1q?key=6d207e95cd5efe881a1c063cd21b2ed6

Berita Negatif Enam Kali Lebih Cepat Menyebar, Ancaman Nyata bagi Kesehatan Mental!

Untung Sutomo ingatkan masyarakat waspadai berita negatif yang enam kali lebih cepat menyebar dan berdampak pada kesehatan mental (Foto: Agus Siswanto/IGID-Infopublik.id)
banner 120x600
banner 468x60

LokalJawa.com, Bali Di era informasi tanpa batas, kemampuan masyarakat dalam memilah berita menjadi semakin krusial. Redaktur Pelaksana indonesia.go.id, Untung Sutomo, mengungkapkan bahwa berita negatif kini menyebar jauh lebih cepat daripada informasi positif, dan dampaknya langsung terasa pada kondisi psikologis masyarakat.

“Menurut survei Exploding Topical 2025, berita negatif terbukti enam kali lebih cepat menyebar dibandingkan berita positif. Satu isu negatif bisa menenggelamkan sejumlah berita positif sekaligus,” ujar Untung dalam sesi “IGID Menyapa” bertema Sehat Sejak Dini untuk Generasi Emas di Bali Sunset Road Convention Center, Rabu (29/10/2025).

banner 325x300

Untung menjelaskan fenomena ini berakar dari negativity bias, yakni kecenderungan otak manusia lebih peka terhadap hal negatif.

“Otak kita seperti velcro untuk pengalaman negatif dan teflon untuk yang positif. Informasi negatif diproses dua kali lebih cepat,” jelasnya.

Dampaknya, 73 persen pengguna internet mengaku mengalami stres setelah mengonsumsi berita negatif, mulai dari peningkatan hormon stres hingga gangguan tidur.

“Hormon stres meningkat, mood menurun, bahkan bisa menyebabkan kecemasan,” katanya.

Kondisi tersebut paling kuat dirasakan oleh generasi Z, kelompok usia yang kini mendominasi pengguna internet.

“Gen Z menghabiskan rata-rata 8 jam 39 menit per hari menatap layar, dan membuka aplikasi media sosial hingga 79 kali. Ironisnya, sebagian besar bukan untuk belajar atau mencari informasi produktif,” ujarnya.

Menurut Untung, algoritma media sosial juga memperparah keadaan. Sistem platform digital dirancang untuk menonjolkan konten yang memicu emosi kuat, termasuk kemarahan dan ketakutan.

“Konten yang emosional dianggap menarik oleh algoritma. Semakin marah atau sedih kita, semakin sering konten itu muncul di linimasa. Itulah sebabnya hoaks dan misinformasi tumbuh subur,” tegasnya.

Ia mengingatkan masyarakat untuk tidak menjadi korban “musuh tersembunyi algoritma” yang menciptakan lingkaran stres dan hilangnya daya kritis. Solusinya, kata Untung, adalah dengan aktif membagikan konten positif dan memeriksa kebenaran informasi sebelum menyebarkannya.

“Batasi waktu daring, cek fakta sebelum membagikan informasi, dan gunakan sumber kredibel seperti media arus utama. Kalau soal kebijakan dan capaian pemerintah, silakan akses indonesia.go.id, portal resmi yang menyajikan informasi publik yang akurat dan mencerahkan,” ujarnya.

Menurut Untung, literasi digital hari ini tidak lagi sekadar bisa membaca teks, tetapi juga memahami visual, berpikir kritis, dan menyeimbangkan aktivitas daring dengan kehidupan nyata.

Ia menutup dengan seruan optimistik:

“Dulu ada istilah bad news is good news, sekarang harus kita ubah: good news is good news. Karena dari sanalah kita membangun bangsa yang sehat, positif, dan saling percaya,” tutupnya.

Sumber: Info Publik

banner 325x300