https://www.profitablecpmratenetwork.com/eujr14h1q?key=6d207e95cd5efe881a1c063cd21b2ed6

Tak Menyerah di Pengungsian Aceh Tamiang, Syarifudin Bangkit Menjaga Asa dari Usaha Pangkas Rambut

Kisah Syarifudin, tukang pangkas rambut Aceh Tamiang, tetap bekerja di pengungsian banjir demi bertahan dan bangkit. Foto : InfoPublik/Agus Siswanto
banner 120x600
banner 468x60

JAKARTA, lokaljawa.com –  Bencana banjir yang melanda Kabupaten Aceh Tamiang pada akhir November 2025 memaksa ribuan warga meninggalkan rumah dan aktivitas harian mereka. Genangan air dan lumpur tak hanya merendam permukiman, tetapi juga memukul perekonomian warga. Meski demikian, di balik deretan tenda pengungsian, semangat untuk bertahan dan bangkit tetap hidup.

Di salah satu sudut lokasi pengungsian Kejuruan Muda, Aceh Tamiang, suara gunting yang beradu pelan menjadi penanda bahwa roda ekonomi belum sepenuhnya berhenti. Di sanalah Syarifudin, 41 tahun, seorang tukang pangkas rambut, membuka kembali usahanya dengan peralatan sederhana dan cermin seadanya.

banner 325x300

Syarif, sapaan akrabnya, telah menekuni profesi pangkas rambut selama tiga tahun. Meski kini harus tinggal di pengungsian bersama orang tua dan adiknya, ia memilih tetap bekerja. “Yang penting masih bisa kerja, walaupun sedikit,” ujarnya saat ditemui Minggu 28 Desember 2025.

Usaha pangkas rambutnya baru kembali berjalan sekitar sepekan terakhir, seiring kondisi pengungsian yang mulai tertata. Jumlah pelanggan memang jauh menurun. Jika dalam kondisi normal ia bisa melayani 15 hingga 20 orang per hari, kini Syarif hanya melayani dua hingga tiga pelanggan.

Namun, keterbatasan itu tidak menyurutkan niatnya untuk berusaha. Bagi Syarif, bekerja bukan semata soal penghasilan, tetapi juga bentuk ikhtiar dan menjaga martabat diri di tengah situasi darurat.

Di pengungsian, Syarif menyesuaikan tarif jasanya. Untuk pelanggan dewasa, ia mematok harga Rp15.000, sementara untuk anak-anak, jasanya digratiskan. “Kasihan warga, terutama anak-anak. Mereka juga lagi susah,” katanya. Padahal, dalam kondisi normal, tarif pangkas rambutnya berkisar Rp25.000 hingga Rp30.000 untuk orang dewasa.

Kehidupan di pengungsian memang penuh tantangan. Syarif dan keluarganya masih bergantung pada bantuan pemerintah yang disalurkan melalui posko, mulai dari beras, telur, selimut, tikar, hingga nasi kotak. Bantuan tersebut menjadi penopang kebutuhan dasar sehari-hari.

Meski begitu, Syarif tidak ingin sepenuhnya bergantung pada bantuan. “Bantuan ada, tapi saya tetap berusaha untuk dapat uang sendiri,” ujarnya dengan senyum dan semangat.

Keputusan Syarif tetap membuka usaha di pengungsian memberi dampak lebih dari sekadar ekonomi. Kursi pangkas sederhana itu menjadi ruang kecil bagi warga untuk berbincang, berbagi cerita, dan sejenak melupakan dampak banjir.

Apa yang dilakukan Syarif mencerminkan ketangguhan masyarakat Aceh Tamiang. Bencana boleh datang dan merusak, tetapi semangat untuk bangkit tidak ikut hanyut. Dari gunting yang terus bekerja di pengungsian, tersirat harapan akan kehidupan yang kembali pulih.

Syarif berharap kondisi segera membaik dan warga bisa kembali ke rumah masing-masing. “Semoga cepat normal lagi, supaya pelanggan makin banyak dan pendapatan meningkat,” tuturnya.

Sumber : InfoPublik.id

banner 325x300