https://www.profitablecpmratenetwork.com/eujr14h1q?key=6d207e95cd5efe881a1c063cd21b2ed6

Retret Laudato Si’ Surabaya Teguhkan Komitmen Ekologis, Uskup Ajak Umat Bergerak Nyata

banner 120x600
banner 468x60

LokalJawa – Blitar ( 9 Februari 2026 )

Semangat merawat bumi sebagai rumah bersama kembali ditegaskan dalam Retret Laudato Si’ Keuskupan Surabaya yang berlangsung pada 7–8 Februari 2026 di Rumah Retret Dharmaningsih, Claket, Mojokerto. Sebanyak 101 peserta dari 24 paroki, tarekat, sekolah, karya kesehatan, dan yayasan Katolik ambil bagian dalam kegiatan bertema “Merawat Ibu Bumi dengan Semangat Laudato Si’.”

banner 325x300

Dalam kesempatan tersebut, Uskup Surabaya, Mgr. Agustinus Tri Budi Utomo, menyampaikan pesan yang menggugah. Ia mengingat kembali momentum tahbisan episkopalnya pada 22 Januari 2025, ketika ratusan relawan Laudato Si’ turut ambil bagian sebagai relawan kebersihan dan penggerak kampanye ekologis sepanjang rangkaian perayaan. “Bukan hanya saya yang ditahbiskan saat itu, tetapi juga para animator Laudato Si’,” ungkapnya di hadapan para peserta retret.

Kehadiran Uskup yang memilih moto Diligere Sicut Christus Dilexit (Mencintai seperti Kristus Mencintai) menjadi suntikan semangat tersendiri. Ia mengajak para peserta untuk tidak menunda aksi, melainkan segera memulai langkah nyata dari basis masing-masing. Komitmen ekologis Keuskupan Surabaya juga diwujudkan melalui pengembangan Laudato Si’ Center seluas 10 hektar yang difokuskan pada konservasi tanaman langka. Selain itu, Keuskupan berencana menggelar Yubileum Laudato Si’ dalam rangka 800 tahun Santo Fransiskus Assisi (10 Januari 2026 – 10 Januari 2027) serta menerbitkan surat gembala tentang pembumian ensiklik Laudato Si’.

Retret yang diketuai Sr. Sisilia, SSPS ini dirancang untuk memperdalam pemahaman akan ensiklik Laudato Si’, membedah akar krisis ekologis, menumbuhkan spiritualitas ekologis, serta membekali peserta dengan keterampilan praktis. Hari pertama mengangkat tema “Melihat dan Menimbang: Memahami Krisis Rumah Bersama.” Cyprianus Lilik Krismantoro Putro dari Tim Kerja Nasional Gerakan Laudato Si’ Indonesia mengajak peserta merefleksikan kondisi bumi dalam konteks batas-batas planet dan situasi Jawa Timur. Peserta juga diajak menelaah empat akar krisis ekologis sebagaimana dipaparkan Paus Fransiskus: dominasi paradigma teknokratik, antroposentrisme berlebihan, relativisme praktis, serta krisis moral dan spiritual.


Pendalaman iman turut menjadi bagian penting melalui sesi yang dibawakan Rm. Markus Marcelinus Hardo Iswanto, CM, Ketua PSE Keuskupan Surabaya. Ia menekankan bahwa pembelaan terhadap kehidupan dan kelestarian ciptaan merupakan panggilan iman. Malam harinya, peserta diajak berefleksi dan berdoa, memperdalam komitmen ekologis secara personal dan komunal.

Hari kedua bertema “Bertindak: Komitmen Ekologis dan Tindakan Nyata.” Setelah perayaan Ekaristi, peserta melakukan aksi simbolis penanaman 30 bibit pohon di area rumah retret sebagai wujud pertobatan ekologis yang konkret. Berbagai sesi inspiratif dari para fasilitator, termasuk pengalaman aksi nyata Laudato Si’, memperkaya perspektif peserta. Kegiatan ditutup dengan presentasi rencana aksi dari setiap kevikepan dan kelompok kategorial, memastikan gerakan ini berlanjut di komunitas masing-masing.

Antusiasme peserta terasa kuat. Gaby, OMK dari Paroki Kepanjen Surabaya, menilai materi yang disampaikan sangat padat dan relevan sehingga layak didalami lebih lama. Sementara Agnes Fitriana, guru SDK Santa Maria Blitar, mengaku tertantang membawa semangat Laudato Si’ ke lingkungan sekolah, meski ia juga merefleksikan tantangan membangun gaya hidup ramah lingkungan secara pribadi.

Melalui pesan video, Rm. Marthen Jenarut, Pr, Sekretaris Eksekutif Komisi Keadilan dan Perdamaian–Pastoral Migran dan Perantau KWI, mengapresiasi langkah Keuskupan Surabaya. Ia menegaskan bahwa krisis ekologis tidak terpisah dari krisis kemanusiaan, sehingga perjuangan merawat bumi harus berjalan seiring dengan komitmen pada keadilan sosial.

Bagi Gerakan Laudato Si’ Indonesia, kegiatan ini merupakan tindak lanjut Pertemuan Nasional 10 Tahun Ensiklik Laudato Si’ yang digelar pada September 2025 di Bogor. Tiga rekomendasi utama—memperkuat animasi di keuskupan, menyapa orang muda Katolik, dan menata jejaring animator secara nasional—mulai diimplementasikan melalui pelatihan dan retret serupa di berbagai wilayah.

Retret di Claket ini menjadi peneguhan bahwa merawat bumi bukan sekadar wacana, melainkan gerakan bersama yang lahir dari iman dan diwujudkan dalam tindakan nyata.
( Cyprianus Lilik KP )

banner 325x300