https://www.profitablecpmratenetwork.com/eujr14h1q?key=6d207e95cd5efe881a1c063cd21b2ed6

Basilica Dyah Putranti: Tantangan dan Peluang Perempuan di Era Global

banner 120x600
banner 468x60

LokalJawa – Yogyakarta

Dunia di era global sejatinya ibarat sekeping uang logam; satu sisinya menebar ancaman, sementara sisi lainnya menjanjikan peluang emas. Jika ancaman itu kita dekap erat sebagai tantangan, ia justru akan bertransformasi menjadi energi positif yang menggerakkan perubahan. Sosok perempuan Yogyakarta, Basilica Dyah Putranti, telah lama menyelami dinginnya dunia penelitian akademik demi menantang arus global tersebut. Di tengah deru perjuangan intelektualnya menempuh gelar Ph.D di Radboud University Nijmegen, Belanda, perempuan yang akrab disapa Mbak Lica ini tak pernah lelah memotivasi kaum hawa untuk berani memacu diri hingga mampu mendunia.

banner 325x300

Sebagai peneliti di Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan UGM, Februari 2026 menjadi bulan yang sibuk bagi Lica. Ia kebanjiran permintaan menjadi narasumber, mulai dari siaran radio hingga seminar nasional Komunitas KAWAL Indonesia. Dalam setiap sesinya, kandidat Doktor Geografi Sosial ini mengingatkan bahwa globalisasi telah menciptakan “desa global” yang tanpa sekat. Namun, di balik kemudahan teknologi, perempuan masih sering terbentur tembok tebal. Mereka yang dahulu diremehkan sebagai kanca wingking kini justru menghadapi marginalisasi pendidikan, eksploitasi tenaga kerja, hingga tekanan standar kecantikan yang berlebihan. Globalisasi, menurutnya, belum sepenuhnya memerdekakan perempuan dari hegemoni budaya patriarki.

Untuk melawan ancaman tersebut, Lica menawarkan sebuah paradigma peradaban yang ia sebut sebagai pergeseran dari EGO menuju ECO dan akhirnya SEVA. Ia mengamati bahwa globalisasi selama ini membangun budaya EGO yang cenderung egosentris dan eksploitatif. Budaya ini harus segera digeser menjadi budaya ECO, sebuah konsep keberlanjutan yang menghormati alam dan efisiensi sumber daya. Puncaknya adalah mencapai peradaban SEVA, istilah Sansekerta yang berarti pelayanan tanpa pamrih. Karakteristik SEVA yang mengedepankan gotong royong dan tanggung jawab sosial-ekologi dianggap Lica sangat selaras dengan nilai Pancasila.

Lica menegaskan bahwa perempuan Indonesia harus bangkit menjadi pembaharu budaya global. Ia mencontohkan sosok Prof. Adi Utarini dari UGM yang masuk dalam daftar 100 Orang Paling Berpengaruh versi majalah Time berkat penelitian nyamuk Wolbachia. Prestasi ini membuktikan bahwa karya dari lokal bisa sangat berdampak bagi kesehatan dunia.

Lebih lanjut, Lica yang tetap setia nguri-uri budaya Jawa ini berpesan bahwa untuk mendunia, seseorang tidak perlu menanggalkan identitas aslinya. Ia merujuk pada sosok GKR Mangkubumi, putri sulung Sri Sultan Hamengku Buwono X. Meski menjunjung tinggi adat istiadat Keraton Yogyakarta, GKR Mangkubumi mampu meraih gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Illinois Utara, Amerika Serikat. Baginya, komitmen menjaga kearifan lokal justru menjadi kekuatan unik di tengah pergaulan multikultural. Melalui perjalanan intelektual dan pengabdiannya, Basilica Dyah Putranti terus menyuarakan bahwa perempuan Indonesia memiliki tempat yang istimewa di panggung dunia, selama mereka berani melangkah dengan nilai-nilai kemanusiaan dan kepedulian pada sesama. (Haryadi Baskoro/SHN/Foto:Istimewa)

banner 325x300