Lokaljawa, Lumajang — Kesetaraan hak dalam beragama kini semakin nyata dirasakan oleh penyandang disabilitas netra di Kabupaten Lumajang. Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (ITMI) Lumajang menjadi pelopor inklusivitas keagamaan yang mengedepankan akses setara bagi difabel muslim.
Organisasi ini resmi berdiri pada 4 Agustus 2024 dan menjadi wadah utama bagi para tunanetra muslim untuk menjalankan ibadah, memperdalam ilmu agama, serta membangun jejaring sosial dalam suasana spiritual yang kondusif.
“Organisasi kami menjadi tempat teman-teman tunanetra muslim untuk tetap bisa beribadah, belajar agama, dan menjalin silaturahmi,” ujar Ketua ITMI Lumajang, Mukhamad Fatoni, saat menjadi narasumber Talkshow Jelita di LPPL Radio Suara Lumajang, Sabtu (12/7/2025).
Sejumlah program inklusif telah dijalankan, antara lain pelatihan qiroah, seni al-banjari, dan forum silaturahmi rutin. Selain itu, ITMI juga mendorong pembelajaran Al-Qur’an Braille dan pengembangan akses audio untuk literasi keagamaan.
Fatoni menegaskan bahwa kiprah ITMI tidak hanya bermanfaat bagi anggota, tetapi juga masyarakat luas.
“Kami jalankan pelan-pelan dan istiqamah. Kami yakin ini membawa manfaat besar,” ujarnya.
Anggota Dewan Kehormatan ITMI Lumajang, Nanang Abdullatip, menambahkan bahwa organisasi ini berperan sebagai aktor perubahan sosial.
“Dengan kolaborasi dan penguatan jaringan, kami ingin menjadikan ITMI sebagai gerakan yang memberdayakan. Inklusivitas itu hak, bukan hadiah,” ujarnya.
ITMI juga sedang memperluas kerja sama dengan lembaga keagamaan dan pemerintah daerah untuk menyediakan lebih banyak literatur Islam dalam huruf Braille serta pelatihan Al-Qur’an berbasis audio.
Gerakan ini mendapat apresiasi dari kalangan akademisi. Dr. Fitriana Latifah, pengamat sosial inklusi dari Lembaga Studi Inklusi Nusantara, menyebut ITMI sebagai jembatan antara kebijakan dan realitas difabel.
“Komunitas seperti ITMI sangat penting dalam menghapus diskriminasi dan menyuarakan kepentingan difabel secara nyata,” jelasnya.
Langkah-langkah ITMI Lumajang juga mencerminkan nilai-nilai Pancasila, khususnya prinsip keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Ke depan, ITMI menargetkan menjadi pusat pendidikan inklusif berbasis komunitas, lengkap dengan pelatihan keterampilan hidup dan penguatan karakter spiritual.
Dengan semangat kolaboratif dan gerakan dari bawah, ITMI Lumajang membuktikan bahwa inklusivitas keagamaan bisa dimulai dari komunitas, untuk menciptakan ruang ibadah yang adil dan ramah bagi semua.
Sumber: Infopublik.id
















