LokalJawa b- Yogyakarta
Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) 2026 akan menghadirkan konsep berbeda dengan memadukan kemeriahan budaya dan suasana Ramadan 1447 H. Kawasan Ketandan direncanakan menjadi ruang ngabuburit bagi masyarakat selama penyelenggaraan acara yang berlangsung pada 25 Februari hingga 3 Maret 2026.
Rencana tersebut mengemuka dalam pertemuan Ketua Panitia PBTY 2026 Jimmy Sutanto dengan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X di Gedhong Wilis, Kompleks Kepatihan Yogyakarta.
Dalam kesempatan itu, panitia menyampaikan komitmen untuk menjadikan PBTY sebagai ruang kebersamaan lintas golongan. “Kami ingin merangkul seluruh unsur masyarakat dan seni budaya dalam semangat persatuan,” ungkap Jimmy.
Tahun ini, terdapat penyesuaian pada tata panggung. Jika sebelumnya terpusat di titik tertentu, panggung utama PBTY 2026 direncanakan berada di sekitar Jalan Suryatmajan. Lokasi dan desain panggung masih akan dimatangkan dengan mempertimbangkan situasi serta kebutuhan teknis di lapangan.
Wakil Ketua Pelaksana PBTY 2026, Subekti Saputro Wijaya, menjelaskan bahwa momentum Ramadan menjadi pertimbangan utama dalam penyusunan konsep acara. Selain menjadi destinasi ngabuburit, panitia juga menyiapkan pembagian takjil di sejumlah titik untuk menyemarakkan suasana berbuka puasa.
Mengusung tema “Warisan Budaya Memperkuat Persatuan Bangsa”, PBTY 2026 ingin menegaskan Yogyakarta sebagai kota yang menjunjung tinggi toleransi dan harmoni keberagaman. Salah satu agenda utama, Malioboro Imlek Carnival, dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 28 Februari 2026, sebagai puncak perayaan.
















