Padang, lokaljawa.com– Pascabencana banjir dan longsor, puing bangunan masih tampak berserakan di Kampung Apa, Kecamatan Lubuk Minturun, Kota Padang, Sumatra Barat. Meski jejak bencana belum sepenuhnya hilang, suasana berbeda muncul dari area posko pengungsian ketika tawa anak-anak pecah dan menghadirkan harapan baru bagi warga yang terdampak.
Keceriaan itu hadir bersamaan dengan kedatangan Mobil Dukungan Psikososial Kementerian Komunikasi dan Digital yang berkolaborasi dengan organisasi nirlaba Save the Children. Layanan tersebut menjadi ruang aman sementara bagi anak-anak pengungsi untuk kembali merasakan kebahagiaan setelah hari-hari penuh ketakutan dan ketidakpastian akibat bencana.
Sekitar 100 anak mengikuti kegiatan dukungan psikososial yang digelar di posko pengungsian Kampung Apa. Sejak sesi pertama dimulai, antusiasme tampak jelas dari wajah mereka yang ceria. Anak-anak diajak bermain gim interaktif, bergerak mengikuti instruksi fasilitator, saling menyemangati, dan tertawa bersama tanpa rasa takut tersisih, menciptakan suasana inklusif yang menenangkan.
Kegiatan berlanjut dengan sesi mewarnai yang menjadi sarana anak-anak mengekspresikan perasaan dan imajinasi mereka. Melalui dialog sederhana dengan fasilitator, anak-anak dilatih untuk berani bertanya, menentukan pilihan, serta menyalurkan emosi secara positif dalam suasana yang aman dan suportif.
Puncak kegiatan diisi dengan sesi mendongeng bertema kepedulian lingkungan yang dibawakan pendongeng Maia Janitra. Anak-anak diajak menyelami kisah Kiko, seekor kelinci yang tinggal di Hutan Digital, sekaligus berdiskusi tentang peran hutan dan alam dalam mencegah banjir dan longsor. Maia menjelaskan bahwa cerita tersebut dirancang agar anak-anak memahami pentingnya menjaga lingkungan dan membatasi penggunaan gawai secara bijak.
Dalam cerita, Kiko digambarkan terlalu asyik bermain gawai hingga mengabaikan alam dan kebersamaan. Konflik muncul saat badai melanda Hutan Digital, menyebabkan banjir dan longsor, hingga Kiko tersesat dan baru terselamatkan berkat kerja sama teman-temannya. Pesan moral tentang kebersamaan, kepedulian, dan penggunaan gawai yang sehat pun tersampaikan dengan kuat.
Nilai-nilai tersebut langsung ditangkap anak-anak. Muhammad Charlie Van Houten, 13 tahun, mengaku mulai berpikir ulang soal kebiasaan bermain ponsel. Sementara Siti Alia, 14 tahun, menilai penggunaan gawai berlebihan dapat mengganggu kesehatan mata dan proses belajar, sehingga perlu dibatasi demi masa depan yang lebih baik.
Upaya pemulihan psikososial ini sejalan dengan terbitnya Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak atau PP Tunas, yang bertujuan menciptakan ruang digital yang aman bagi anak melalui penyaringan konten dan mekanisme perlindungan yang lebih kuat.
Di tengah kondisi pascabencana, kegiatan dukungan psikososial ini menegaskan bahwa pemulihan anak tidak hanya menyangkut kebutuhan fisik, tetapi juga rasa aman, kebersamaan, dan pendampingan emosional agar mereka dapat kembali menatap masa depan dengan percaya diri, baik di dunia nyata maupun di ruang digital.
Sumber : infopublik.id
















