https://www.profitablecpmratenetwork.com/eujr14h1q?key=6d207e95cd5efe881a1c063cd21b2ed6

Wamenkomdigi Nezar Patria: Stasiun TV Harus Bertransformasi Jadi Perusahaan Teknologi Konten di Era AI

Wamenkomdigi Nezar Patria dorong stasiun TV bertransformasi jadi perusahaan teknologi konten agar tetap relevan di era AI. (Foto: Anhar/Komdigi)
banner 120x600
banner 468x60

Jakarta, Lokaljawa.com — Di tengah guncangan besar yang dihadapi industri media akibat pesatnya perkembangan kecerdasan artifisial (AI), stasiun televisi dituntut melakukan transformasi besar-besaran agar tetap bertahan dan relevan.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria menegaskan bahwa masa depan televisi bergantung pada sejauh mana industri penyiaran mampu beradaptasi terhadap teknologi AI.

banner 325x300

“Metro TV dan televisi lain harus melihat dirinya bukan hanya sebagai stasiun penyiaran, tapi sebagai perusahaan teknologi konten. Teknologi, terutama AI, harus masuk ke semua aspek—dari ruang redaksi hingga distribusi,” ujar Nezar dalam Workshop “Metro TV, Still On Air: TV yang Bertahan, Berkembang, dan Berevolusi” di Jakarta, Senin (3/11/2025).

Nezar menjelaskan bahwa dunia kini memasuki era media 3.0, di mana algoritma dan AI memegang kendali atas distribusi konten. Penonton tidak lagi menelusuri saluran siaran secara manual, melainkan menerima rekomendasi tayangan personal dari asisten AI.

“Kendali konten kini ada di tangan AI. Bukan lagi manusia yang menentukan. Ini mengubah cara orang menonton, dan mengguncang model distribusi media konvensional,” tegasnya.

Namun di balik tantangan tersebut, Nezar melihat AI juga membuka peluang besar bagi industri televisi untuk meningkatkan efisiensi dan inovasi. Teknologi ini bisa digunakan untuk mempercepat proses produksi, memperbaiki kualitas audio-visual, hingga menganalisis data penonton untuk mendukung keputusan editorial.

Meski begitu, ia menekankan pentingnya peran manusia dalam pengawasan AI agar jurnalisme tidak kehilangan akurasi dan nilai etikanya.

“AI bisa membantu kerja redaksi, tapi jangan sepenuhnya diserahkan pada mesin. Tetap harus ada human in the loop,” ujarnya.

Nezar juga memperingatkan risiko penyalahgunaan AI, seperti deepfake, disinformasi, dan halusinasi data yang dapat merusak kredibilitas media. Ia mencontohkan kasus lembaga survei besar di Australia yang harus membayar 440 ribu dolar karena menggunakan data palsu hasil AI.

Menurut Nezar, Kementerian Komunikasi dan Digital berkomitmen mendukung inovasi media nasional agar mampu memanfaatkan teknologi dengan tetap menjaga integritas jurnalistik.

“Teknologi bisa dipelajari, tapi jurnalisme harus tetap jadi nyawa kita. Media yang bertahan bukan yang paling cepat beradaptasi secara teknis, tapi yang tetap menyajikan informasi benar dan berpihak pada kepentingan publik,” pungkasnya.

sumber : InfoPublik

banner 325x300