https://www.profitablecpmratenetwork.com/eujr14h1q?key=6d207e95cd5efe881a1c063cd21b2ed6

BMM–MADADA Jangkau 172 Masjid: Skema Qardhul Hasan Bantu Jamaah Lepas dari Jerat Pinjol

Program BMM–MADADA bantu jamaah keluar dari jerat pinjol melalui pembiayaan qardhul hasan. Sudah hadir di 172 masjid dan perkuat ekonomi umat. Foto : Istimewa
banner 120x600
banner 468x60

Bandar Lampung, Lokal Jawa — Program BAZNAS Microfinance Masjid (BMM) yang dikolaborasikan dengan Masjid Berdaya Berdampak (MADADA) Kementerian Agama kini telah hadir di 172 masjid di seluruh Indonesia. Program ini dinilai efektif membantu jamaah masjid—khususnya pelaku usaha mikro—terhindar dari jeratan pinjaman online (pinjol) berbunga tinggi melalui skema pembiayaan qardhul hasan atau pinjaman tanpa bunga.

Rangkaian program ini dipaparkan pada hari kedua Bimbingan Teknis BMM–MADADA di Bandar Lampung, Rabu (12/11/2025). Hadir dalam kegiatan tersebut Deputi II Bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan BAZNAS M. Imdadun Rahmat, Kasubdit Kemasjidan Kemenag Nurul Badruttamam, serta perwakilan masjid dari berbagai daerah.

banner 325x300

Masjid sebagai Basis Solusi Ekonomi Umat

Deputi BAZNAS M. Imdadun Rahmat menegaskan bahwa BMM dirancang sebagai inisiatif strategis untuk menghadirkan solusi keuangan mikro yang adil dan sesuai syariah bagi jamaah.

“Program ini memanfaatkan potensi sosial, spiritual, dan ekonomi masjid agar jamaah pelaku usaha mikro tidak lagi terjebak pada pinjaman berbasis riba,” ujarnya.

Sejak peluncuran pada 2022, program BMM telah menyalurkan dana zakat produktif sebesar Rp100–150 juta per masjid. Setiap titik program menyasar 30–50 mustahik pelaku usaha mikro dengan plafon pembiayaan maksimal Rp3 juta tanpa bunga, yang kemudian dikembalikan secara bergulir.

Dampak Ekosistem Ekonomi Berbasis Masjid

Imdadun menuturkan bahwa keberhasilan BMM tidak hanya diukur dari pengembalian pembiayaan, tetapi juga dari tumbuhnya ekosistem ekonomi jamaah.

“Di banyak lokasi, program ini menumbuhkan koperasi syariah, usaha kolektif, hingga aktivitas ekonomi baru yang dikelola DKM,” jelasnya.

Setiap masjid mitra menugaskan satu hingga dua pendamping yang dilatih BAZNAS untuk memastikan kelayakan usaha, mendampingi pengembalian, dan mengembangkan kapasitas pelaku usaha.

“Pendamping adalah kunci keberhasilan. Mereka memastikan program tidak berhenti pada bantuan, tetapi berlanjut pada pemberdayaan,” tambahnya.

Ia berharap sinergi BMM–MADADA diperluas ke seluruh provinsi dengan dukungan pemda, Kemenag, dan Dewan Masjid Indonesia (DMI).

Kemenag: Masjid Harus Jadi Pusat Peradaban Ekonomi Umat

Kasubdit Kemasjidan Kemenag Nurul Badruttamam menyebut program BMM–MADADA sejalan dengan visi Kemenag menjadikan masjid sebagai pusat peradaban modern.

“Masjid tidak hanya tempat ibadah, tetapi juga ruang tumbuhnya solidaritas sosial dan ekonomi umat,” ujarnya.

Nurul menekankan pentingnya penguatan kapasitas DKM dalam tata kelola, akuntabilitas, dan prinsip syariah agar masjid siap menjalankan fungsi pemberdayaan ekonomi jamaah secara profesional.

Ia juga menilai pembiayaan qardhul hasan sebagai bentuk nyata solidaritas sosial.

“Pembiayaan tanpa bunga ini bukan sekadar transaksi ekonomi, tetapi wujud kepedulian yang mengangkat harkat jamaah kecil,” jelasnya.

Nurul berharap model kolaborasi lintas lembaga seperti BMM–MADADA dapat menjadi fondasi kokoh bagi ekosistem ekonomi syariah di akar rumput.

“Kita ingin masjid menjadi pelopor kebangkitan ekonomi umat, bukan hanya simbol spiritual, tetapi pusat pemberdayaan yang menyejahterakan,” tutupnya.

Sumber : Kemenag

banner 325x300