https://www.profitablecpmratenetwork.com/eujr14h1q?key=6d207e95cd5efe881a1c063cd21b2ed6

Enkulturasi Budaya Jawa Warnai Ritus Keagamaan Gereja Katolik di Lingkup Militer

banner 120x600
banner 468x60

LokalJawa – Bantul

Gereja Katolik Paroki Santo Mikael Pangkalan-Adisutjipto kembali menegaskan komitmennya dalam melestarikan kebudayaan Jawa melalui perayaan Ekaristi berbahasa Jawa yang diiringi gamelan dan tarian, Minggu (30/11/2025). Kegiatan ini menjadi enkulturasi kedua yang digelar dalam Misa Mingguan di satu-satunya gereja Katolik yang berada di lingkup militer Yogyakarta.
Gereja Santo Mikael Pangkalan yang berlokasi di Kompleks TNI AU Lanud Adisutjipto, Jalan Lettu TPT Sapardal, terus berupaya nguri-uri kabudayan Jawa dengan memadukan unsur budaya lokal ke dalam ritus keagamaan Katolik.
Gagasan perayaan Ekaristi berbahasa Jawa dengan iringan gamelan ini telah dirintis sejak 2022 oleh Rama Martinus Joko Lelono, Pr. Bahkan jauh sebelum pandemi, gereja ini pernah menggelar misa beriringan gamelan, meski masih menggunakan bahasa Indonesia, saat dipimpin Rama Yos Bintoro, Pr.
Pada periode 2022–2024, misa berbahasa Jawa hanya diiringi gamelan dewasa kelompok Ngesthi Pada. Namun pada 2025, perayaan ini semakin semarak dengan kehadiran gamelan anak yang bangkit kembali setelah vakum sejak 2012, dilengkapi tarian persembahan oleh anak-anak.
Enkulturasi ini menjadi gambaran nyata bahwa nilai-nilai budaya Jawa dapat hidup selaras dalam praktik keagamaan, termasuk di lingkungan militer. Melalui gamelan, tarian, dan bahasa Jawa, berbagai nilai luhur diinternalisasikan, mulai dari kebersamaan, moral dan etika, spiritualitas, estetika, pendidikan karakter, hingga kepemimpinan.
Dalam tarian persembahan yang mengiringi musik gamelan, tercermin nilai penghormatan, kesantunan, ketulusan, disiplin, serta simbol persatuan dan doa keberkahan. Sementara bahasa Jawa menghadirkan pitutur luhur, budi pekerti mulia, hingga falsafah hasthalaku yang mengajarkan gotong royong, kerukunan, rendah hati, tenggang rasa, dan saling menghargai.
Penerapan nilai-nilai tersebut juga sejalan dengan sila ketiga Pancasila, Persatuan Indonesia. Hal ini tampak dari penggunaan gagrak Jawa oleh seluruh petugas liturgi, mulai dari niyaga dewasa dan anak, lektor, pemazmur, hingga penggunaan bahasa Jawa dalam seluruh rangkaian liturgi. Pada bagian homili, imam tetap menyelipkan bahasa Indonesia sebagai bentuk empati bagi umat yang belum sepenuhnya memahami bahasa Jawa.
Kolaborasi lintas generasi turut memperkaya perayaan Ekaristi. Anak-anak, orang tua, dan kaum muda bersatu dalam harmoni, termasuk kehadiran niyaga muda yang bergabung dengan kelompok dewasa demi kelancaran misa.
“Nilai Jawa nyengkuyung atau saling mendukung sangat terasa. Anak-anak niyaga mampu mengiringi kor yang mayoritas orang tua dengan tujuan bersama, yakni mewujudkan Ekaristi yang khidmat dan syahdu,” ujar Erika, Koordinator Gamelan Gereja.
Keunikan lainnya, dua lagu liturgi—Atur Pisungsung dan Bapa Kami—diberi sentuhan budaya Sunda oleh gamelan dewasa, sementara lagu penutup Gusti Jeksa Kawula diaransemen dengan nuansa Bali oleh gamelan anak. Perpaduan ini semakin memperkaya mozaik budaya dalam perayaan Ekaristi.
“Harapan kami, enkulturasi ini membantu umat semakin khusyuk berdoa, merasakan kehadiran Tuhan secara lebih mendalam, sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap budaya Jawa dan budaya Nusantara,” pungkas Erika.

banner 325x300