https://www.profitablecpmratenetwork.com/eujr14h1q?key=6d207e95cd5efe881a1c063cd21b2ed6

Kemensos Dorong Pemberdayaan Ramah Lingkungan lewat Kerajinan Pelepah Pisang di Kulon Progo

Kementerian Sosial terus mendorong transformasi bantuan sosial menjadi pemberdayaan berkelanjutan. Di Kulon Progo, program pelatihan kerajinan pelepah pisang menjadi contoh nyata bagaimana kreativitas lokal bisa membuka peluang ekonomi hijau.

Kemensos dorong kerajinan ramah lingkungan dari pelepah pisang di Kulon Progo sebagai model pemberdayaan sosial berkelanjutan dan produktif. Foto: Kemensos
banner 120x600
banner 468x60

Lokaljawa, KULON PROGO — Kementerian Sosial (Kemensos) menyelenggarakan kegiatan pemberdayaan masyarakat berbasis kerajinan ramah lingkungan sejak 28 Juni 2025, dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-50 Pekerja Sosial Masyarakat (PSM).

Program ini menjadi bagian dari transformasi kebijakan sosial Kemensos, dari model bantuan jaminan sosial menjadi pemberdayaan produktif dan berkelanjutan. “Kami ingin masyarakat tidak hanya menerima bantuan, tapi juga memiliki daya dan produktivitas, sekaligus menjaga lingkungan,” ujar Wakil Menteri Sosial Agus Jabo, saat meninjau pelatihan di Kulon Progo, Yogyakarta, Senin (30/6/2025).

banner 325x300

Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi Kemensos dengan Yayasan Kumala dan Murakabi Craft, yang sudah berpengalaman dalam produksi dan ekspor kerajinan sejak 1999.

Pelatihan intensif diikuti oleh 100 peserta dengan fokus pada pengolahan limbah pelepah pisang menjadi produk kerajinan bernilai ekonomi. Produk yang diajarkan meliputi kursi rotan sintetis dari serat pisang, karpet, keranjang multifungsi, hingga kertas daur ulang.

Menurut Muhammad Othman Moerbayatma, Manager Marketing Murakabi Craft, pelatihan ini merupakan bagian dari skema rantai produksi jangka panjang. “Kami ditunjuk sebagai off-taker oleh Kemensos. Dari 50 peserta pelatihan menganyam, sekitar 40 sudah punya keterampilan dasar yang bagus,” ungkapnya.

Murakabi Craft akan melanjutkan pendampingan dengan:

  1. Pembentukan kelompok produksi lokal

  2. Pendampingan teknis

  3. Pemesanan awal (PO)

  4. Kurasi sampel

  5. Pembelian hasil produksi

  6. Finishing dan ekspor produk

Harga produk kerajinan ini berkisar antara Rp30.000 hingga Rp1.000.000, dengan upah pengrajin mulai dari Rp7.000 hingga Rp100.000 per unit, memberikan penghasilan langsung bagi masyarakat.

“Dengan pola ini, warga bisa produksi dari rumah dan tetap punya pasar yang jelas. Produksi lokal, pasar global,” tegas Othman.

Wakil Bupati Kulon Progo Agung Setyawan mengapresiasi langkah Kemensos. “Ini bukti konkret bagaimana masyarakat bisa diberdayakan, bukan sekadar diberi,” ujarnya.

Peringatan HUT ke-50 PSM tahun ini pun menjadi momentum penting untuk mengukuhkan peran pekerja sosial dalam mendorong kemandirian sosial dan ekonomi di tingkat akar rumput.

Sumber: Kemensos

banner 325x300