https://www.profitablecpmratenetwork.com/eujr14h1q?key=6d207e95cd5efe881a1c063cd21b2ed6

Ketika Air Dipanggil Pulang: Gerakan Laku Nunggal Banyu di Jantung Yogyakarta

banner 120x600
banner 468x60

LokalJawa – Yogyakarta (13/12/2025)
Dari Titik Nol Kilometer Yogyakarta, denting kendi pecah mengawali perjalanan panjang air yang dibawa menyusuri enam sungai mengapit Sumbu Filosofi. K.R.T Condro Padmonagoro memecah kendi sebagai tanda dimulainya Ruwat Tirtha Mandhala, ritual budaya yang digelar YCMN bersama Paksi Katon dan Dewan Adat Tradisi Mataram.

Air itu kemudian mengalir menuju sungai-sungai yang kini tengah menjerit. Sungai yang dulu menjadi nadi kehidupan kini tercemar, rusak, dan kehilangan mata airnya. Inilah keprihatinan mendalam yang melahirkan gerakan Laku Nunggal Banyu—sebuah upaya kolektif memanggil kembali kesadaran masyarakat terhadap air sebagai sumber kehidupan.

banner 325x300

Krisis air kini bukan ancaman masa depan, melainkan kenyataan. Di balik pengakuan dunia atas Sumbu Filosofi, kondisi ekologisnya sedang rapuh. Masyarakat makin jauh dari kearifan lokal yang mengajarkan pemuliaan air.

“Krisis air adalah pertanda kita melupakan pesan leluhur,” ujar Ku Detik Wicaksono selaku Ketua panitia LNB dan Dewan Pembina YCMN. Gerakan ini hadir untuk membangkitkan kembali ingatan itu: bahwa air adalah titipan yang harus dijaga bersama.

Melalui ritual, aksi, dan edukasi, YCMN berharap gerakan ini menjadi momentum menyatukan pemerintah, komunitas, dan publik dalam merawat ekosistem Sumbu Filosofi sebagai ruang hidup, bukan sekadar simbol budaya.

Sementara dalam forum terpisah Ketua Komisi D DPRD DIY R.B. Dwi Wahyu B., S.Pd., M.Si. pernah menyampaikan makna Jalan dari titik NOL pusat dimulai segala sesuatu ke Tugu itu meliputi banyak aspek bidang yg mencakup : Pasar Beringharjo sebagai pusat ekonomi, Kepatihan dan
Kantor DPRD DIY pusat pemerintahan, melewati jalur rel kereta sebagai pusat perhubungan, terakhir sebelum Tugu ada kantor KR sebagai media publikasi. (KHS)

banner 325x300