https://www.profitablecpmratenetwork.com/eujr14h1q?key=6d207e95cd5efe881a1c063cd21b2ed6

Menag Nasaruddin Umar: Kolaborasi Islam Moderat dan Kebijaksanaan Tionghoa Kunci Perdamaian Dunia

Menag Nasaruddin Umar ajak dunia kolaborasi antara Islam moderat dan kebijaksanaan Tionghoa untuk membangun perdamaian global. Foto : Dok Istimewa
banner 120x600
banner 468x60

Jakarta, 11 November 2025 , Lokaljawa— Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menegaskan pentingnya membangun kolaborasi antara Wasathiyah Islam dan nilai-nilai kebijaksanaan Tionghoa sebagai fondasi bersama dalam memperkuat perdamaian dunia.

Hal tersebut disampaikan Menag saat menjadi pembicara dalam 9th World Peace Forum yang digelar di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Selasa (11/11/2025). Forum ini dihadiri para pemimpin agama, akademisi, dan tokoh perdamaian dari berbagai negara.

banner 325x300

“Sangat penting bagi kita berbicara mengenai Wasathiyah Islam dan nilai-nilai Tionghoa dalam konteks kolaborasi global. Islam wasathiyah adalah konsep Al-Qur’an yang memiliki makna sangat mendalam,” ujar Menag dalam paparannya.

Menag menjelaskan bahwa Wasathiyah Islam berasal dari akar kata Arab yang berarti keseimbangan dan moderasi, yang menjadi ciri khas ajaran Islam.

“Islam adalah agama keseimbangan dan keadilan, bukan sekadar penyerahan formal. Islam wasathiyah mencerminkan nilai ideal yang menuntun manusia hidup dalam harmoni,” tambahnya.

Dalam kesempatan tersebut, Nasaruddin juga menyoroti hubungan historis antara peradaban Islam dan Tiongkok yang telah terjalin selama berabad-abad. Menurutnya, kedua peradaban besar ini memiliki semangat yang sama dalam membangun harmoni dan kedamaian.

“Islam dan Tiongkok sama-sama mengajarkan keseimbangan dan kebijaksanaan. Nilai-nilai ini bisa menjadi dasar penting untuk kolaborasi global masa depan,” jelasnya.

Menag menilai posisi Tiongkok sangat strategis dalam peta spiritualitas dunia, mengingat banyak agama besar lahir dari kawasan timur — seperti Hindu, Taoisme, Islam, Nasrani, dan Yahudi. Karena itu, ia menilai dialog lintas agama dari dunia timur menjadi kunci menjawab tantangan kemanusiaan global saat ini.

Lebih jauh, Menag menekankan pentingnya mengedepankan konsep “perdamaian suci” (holy peace) dibandingkan “perang suci” (holy war).

“Tidak ada perang suci. Yang ada hanyalah perdamaian suci. Konsep ini harus terus kita suarakan agar generasi muda tumbuh dengan semangat kasih dan kemanusiaan,” pungkas Nasaruddin.

Forum ini menjadi momentum penting untuk memperkuat diplomasi keagamaan Indonesia dalam mendorong perdamaian dunia berbasis nilai-nilai moderasi, kebijaksanaan, dan kemanusiaan.

Sumber : Kemenag

banner 325x300