JAKARTA, LOKAL JAWA – Menteri Agama Nasaruddin Umar menekankan bahwa literasi keagamaan bukan sekadar kemampuan membaca teks, tetapi juga memahami tanda-tanda kehidupan dan memaknainya secara spiritual. Pernyataan itu disampaikan saat membuka Puncak Festival Literasi Keagamaan 2025 bertema “Merajut Keragaman, Menebar Cinta, dan Menjaga Semesta” di Auditorium HM Rasjidi Kemenag Thamrin, Kamis (20/11/2025).
Festival ini digelar oleh Pusat Penilaian Buku Agama, Lektur, dan Literasi Keagamaan, Kementerian Agama. Menag menekankan literasi yang sejati mengajarkan masyarakat membaca simbol kehidupan untuk membangun harmoni, bukan sekadar mempelajari teks secara akademis.
“Literasi artinya kecerdasan membaca tanda, mengartikulasikan simbol, dan merajut berbagai tanda menjadi kesatuan yang utuh yang melahirkan harmoni,” ujar Nasaruddin Umar.
Menag mengingatkan masyarakat agar literasi keagamaan memiliki landasan spiritual. Tanpa spiritualitas, literasi rawan kehilangan makna dan justru mengarah pada pandangan materialistik yang dangkal. Menurutnya, alam semesta sendiri adalah “teks hidup” yang dapat menguatkan iman.
“Ketika kita melihat langit, gunung, atau laut, kita diingatkan pada kebesaran Allah. Setiap fenomena adalah pelajaran spiritual yang hidup,” tuturnya.
Selain itu, Menag menekankan peran keluarga dalam memperkuat literasi keagamaan. Orang tua diminta membimbing anak-anak membaca tanda-tanda kebesaran Tuhan dalam kehidupan sehari-hari, agar terbentuk insan yang luhur dan harmonis.
Rangkaian Festival Literasi Keagamaan 2025 meliputi lomba cerpen, lomba poster, lomba video kreatif, bedah buku, workshop literasi, talk show pencegahan bullying dari perspektif literasi keagamaan, pemutaran film moderasi beragama, hingga penganugerahan Tokoh Literasi Keagamaan 2025.
Acara dihadiri Sekretaris Jenderal Kemenag Kamaruddin Amin, Dirjen Pendidikan Islam Amin Suyitno, Dirjen Bimas Katolik, Tim Penasihat Ahli Menteri, serta tokoh agama dan pejabat eselon II Kemenag.
Sumber : Kemenag
















