https://www.profitablecpmratenetwork.com/eujr14h1q?key=6d207e95cd5efe881a1c063cd21b2ed6

Perluas Warung MRANTASI, Pemkot Yogyakarta Perkuat Upaya Pengendalian Inflasi di Pasar Tradisional

Perluasan Warung MRANTASI di Yogyakarta bantu stabilkan harga sembako, perkuat pengendalian inflasi, dan dukung pedagang pasar tradisional. Foto : Istimewa
banner 120x600
banner 468x60

MANTRIJERON, lokaljawa.com – Pemerintah Kota Yogyakarta kembali memperluas Program Warung Masyarakat Lan Pedagang Tanggap Inflasi (MRANTASI) sebagai upaya menekan laju inflasi sekaligus menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok di pasar tradisional. Langkah ini menjadi bukti komitmen pedagang dan pemerintah dalam menghadapi tekanan inflasi yang masih dipicu kebutuhan pangan.

Peresmian perluasan dilakukan pada Rabu (3/12), ketika Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, didampingi Kepala Dinas Perdagangan Kota Yogyakarta, Veronica Ambar Ismuwardani, membuka Warung MRANTASI milik pedagang Sri Widodo di Pasar Prawirotaman. Peresmian dilakukan secara simbolis melalui pembukaan tirai warung.

banner 325x300

Program MRANTASI sebelumnya berjalan efektif di Pasar Beringharjo dengan melibatkan 25 pedagang. Kini, cakupan diperluas melalui kolaborasi Pemkot Yogyakarta, Bank Indonesia, Bank BPD DIY, dan sejumlah distributor. Penambahan titik layanan dilakukan di Pasar Prawirotaman, Sentul, dan Kranggan.

Hasto menegaskan bahwa pengendalian inflasi adalah agenda strategis daerah. Berdasarkan kajian, kelompok makanan, minuman, dan tembakau masih menjadi penyumbang utama inflasi di Kota Yogyakarta. “Yogyakarta bukan daerah produsen, sehingga ketergantungan pasokan dari wilayah sekitar sangat tinggi,” ujarnya.

Ia menambahkan, ketersediaan pangan menentukan stabilitas harga, apalagi permintaan meningkat seiring posisi Yogyakarta sebagai kota tujuan wisata. Karena itu, kerja sama antardaerah, terutama dengan Kabupaten Bantul dan Sleman, menjadi kunci untuk menjaga kelancaran pasokan pangan. Barang kebutuhan pokok pun kini disalurkan langsung ke pedagang di Pasar Beringharjo dan Prawirotaman melalui skema operasi pasar.

“Kita harus menguasai pasar kita dengan produk kita sendiri. Pedagang kita dorong untuk mengendalikan harga dengan mengoptimalkan produk lokal dan memperkuat kerja sama daerah,” jelas Hasto.

Pada kesempatan yang sama, dilakukan pula penandatanganan kerja sama Warung MRANTASI sebagai penguat komitmen antarinstansi.

Kepala Dinas Perdagangan Kota Yogyakarta, Veronica Ambar Ismuwardani, menyampaikan bahwa jumlah Warung MRANTASI kini meningkat signifikan. “Sebelum penambahan titik, jumlahnya 25. Sekarang total menjadi 85 warung, dengan tambahan 60 unit di Prawirotaman, 11 di Sentul, dan 11 di Kranggan,” ungkapnya.
Semua warung MRANTASI fokus menjual sembako dengan harga terjangkau.

Menurut Veronica, ketersediaan barang dijamin melalui kerja sama dengan Bulog dan distributor. Pedagang mendapatkan barang sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET), sehingga harga jual tetap stabil. “Ini menjadi edukasi bagi pedagang dan masyarakat bahwa kebutuhan pokok bisa dibeli dengan harga terjangkau di Warung MRANTASI,” jelasnya.

Ia juga memastikan stok beras menjelang akhir tahun aman tanpa perlu impor. Kerja sama pasokan dilakukan secara business to business antara pedagang dan pemasok di Bantul serta Sleman. Jika diperlukan, kemitraan akan diperluas ke wilayah lain.

Salah satu pemilik Warung MRANTASI di Prawirotaman, Sri Widodo, mengaku sangat terbantu. “Kami sudah tersedia beras, minyak, tepung, gula pasir. Semua lebih mudah didapatkan dengan harga lebih murah lewat operasi pasar. Harapannya, konsumen makin banyak datang karena harga lebih terjangkau,” ujarnya.

Program MRANTASI diharapkan menjadi penyeimbang harga sekaligus memperkuat ketahanan pangan di Kota Yogyakarta.

Sumber : warta.jogjakota.go.id

banner 325x300